Showing posts with label short-series. Show all posts
Showing posts with label short-series. Show all posts
Semalam saya membuka berkas-berkas lama saya yang ada di kamar, saya sedang mencari suatu file yang saya butuhkan. Map besar berisi rapor saya semenjak SD hingga SMA serta beberapa file penting lainnya saya buka dan lihat satu persatu. Saat itulah saya menemukan lembar demi lembar piagam penghargaan milik saya yang saya kumpulkan jadi satu di dalam map ini. Seketika ada rasa haru dalam benak saya, rasa haru atas berbagai macam hal yang pernah saya raih. Bukan-ini bukan untuk menyombongkan diri, sama sekali bukan. Saya merasa terharu karena saya teringat akan prestasi-prestasi yang pernah saya peroleh. Saya lupa akan rasa itu karena sudah lama sekali tidak merasakannya. Jangankan untuk berprestasi, sekedar mencari nilai saja sulit sekali bagi saya saat ini. Haru itu hadir karena saya seperti merasakan kembali bagaimana rasa bahagia itu dulu-yang sekarang tidak lagi saya rasakan. Saya ingat betapa dulu saya lah yang menjadi tempat bertanya teman-teman lain, dan bahkan sesungguhnya dari SD hingga SMA saya tidak pernah merasakan beban akademik yang begitu berarti, yang ternyata, sangat berbeda dengan apa yang saya rasakan saat ini. Sekarang, saya bahkan harus bertanya ke sana ke sini untuk mendapat jawaban, usaha ini dan itu supaya mengerti materi-materi yang telah diajarkan, semua-muanya dilakukan. Dan tidak, saya tidak menulis ini untuk mengeluh. Saya sudah terlalu banyak mengeluh. Hanya saja ada satu hal yang saya sadari, bahwa ada roda kehidupan yang sedang dan akan terus berputar. Mungkin ini yang dinamakan dinamika hidup, saya tak akan mulu-mulu jadi yang pintar. Mungkin saya memang harus merasakan menjadi yang tidak pintar agar saya mengerti bagaimana caranya berusaha, memahami bagaimana lelahnya berusaha, sehingga saya akan lebih menghargai usaha yang dilakukan oleh orang lain. Mungkin saya ingin diajarkan hal yang lebih dari sekedar mendapat nilai bagus. Mungkin saya saat ini tidak pintar agar saya tetap rendah hati. Mungkin saya ingin diajarkan untuk menjadi orang yang pantang menyerah. Tetap kukuh meskipun terkadang realita tidak sesuai dengan usaha yang diberikan. That's tough, but yes, we need to accept that things are not always meant to be like what we've expected. Sometimes, we need to be down below to make sure that we are strong enough to push our self to be up above, maybe not now, but yes one day it will happen, because the wheel is still rotating, right?
Sebagai perempuan yang kuliah di teknik yang selalu mengedepankan logika dalam setiap perkuliahannya, saya terkadang keteteran dimana harus menempatkan perasaan saya. Walaupun  selalu ingin berpikiran logis, saya tidak bisa mengelak bahwa sebenarnya jauh di hati saya ada banyak perasaan yang tidak mau dikalahkan dengan logika.

Serba salah untuk menyatukan logika dan perasaan yang sering kali bertentangan. Seperti air dan minyak, sulit untuk disatukan. Logika bisa saja dengan mudah menyuruh kita untuk menjauhi orang yang telah menyakiti kita, tetapi perasaan tidak akan semudah itu untuk melakukannya. Ada banyak hal yang dipikirkan oleh perasaan, terlebih jika orang tersebut telah kita izinkan untuk menempati sebagian ruang di hati kita. Berpisah merupakan pilihan yang tepat sekaligus sangat sulit. Sulit karena ruang yang kita berikan untuknya akan kosong ketika dia pergi. Kekosongan yang hampa, yang membuat perasaan kita selalu ingin menahannya untuk tetap tinggal, sementara logika kita tidak ampun-ampun menyuruhnya pergi agar kita tidak disakiti berkali-kali, agar kita tidak disakiti lebih dalam lagi. Tidak sinkron. Mereka saling berlawanan satu sama lain, membuat kita sulit untuk mengambil keputusan. Seperti ketika kita memakan makanan pedas. Semakin pedas makanan itu maka semakin nikmat, semakin kita ingin memakannya dan memakannya lagi, tanpa peduli dengan kemampuan lambung kita yang terbatas untuk menerima makanan itu. Sewaktu kita memakannya akan ada sensasi pedas yang menyenangkan, sama seperti ketika kita memilih untuk tetap bertemu dengan orang tersebut, akan terasa menyenangkan. Tanpa kita ketahui bahwa setiap pertemuan yang kita lakukan hanya menambah berat proses perpisahan. Sama seperti makanan pedas yang akan menyakiti lambung kita ketika kita sudah menelannya. Sensasi pedas menyenangkan pada saat awal kita memakannya akan hilang seiring dengan rasa sakit di lambung yang terus meningkat, rasa senang karena rindu yang telah terobati dengan sebuah pertemuan akan hilang seiring dengan rasa sakit yang kian mendalam karena toh pada akhirnya kita tetap akan berpisah. Sakit yang membuat candu. Candu yang menyakitkan.

Saya pun sulit menghentikan candu itu. Saya sangat menyukai makanan pedas. Akan sangat sulit bagi saya untuk berhenti memakan makanan pedas, meskipun saya tahu kemampuan lambung saya terbatas. Ya, tidak apa. Saya akan tetap memakannya. Saya hanya perlu tau kapan untuk berhenti.

Tetapi sebelum lambung saya terluka parah, saya harus memaksa mulut saya untuk berhenti mengunyah. Harus. Lambung saya tidak boleh terluka.



Suatu ketika saya bersama seorang teman sedang sibuk memilih dan memilah baju. Kami sama-sama berjilbab sehingga sama-sama memiliki tiga potong pakaian yang harus dipilih setiap kali akan pergi: atasan, bawahan, dan jilbab. Saat itu saya sedang membantunya memilih jilbab yang pas untuk atasan dan bawahan yang telah ia pilih. Dia memiliki banyak jilbab yang bagus dan lucu, ada yang bermotif bunga, polkadot, kotak-kotak, ada yang berenda manis ditepinya, ada yang simpel polos satu warna saja. Kita berusaha me-matching-kan baju dengan jilbab yang akan dipilih, dan akhirnya menjatuhkan pilihan pada jilbab polos segiempat yang simpel. Sederhana sekali jika dibanding jilbab bermotif bunga yang lucu yang saya lirik dari tadi. Tapi bajunya sudah cukup ramai untuk dipadu-padankan dengan jilbab yang bermotif sehingga dipilihlah jilbab sederhana itu. Padahal saya suka jilbab bermotif itu dan membayangkan betapa manisnya kalau dipakai.

Kemudian saya berpikir, jilbab-jilbab itu layaknya kita -manusia, laki-laki dan perempuan. Terkadang kita mempertanyakan, kenapa laki-laki yang tampan itu bersama dengan perempuan yang tidak begitu cantik? Kenapa perempuan yang sangat kaya itu akhirnya mendapatkan seorang laki-laki yang sederhana? Kenapa laki-laki yang pintar itu memilih perempuan yang kepintarannya biasa-biasa saja?
Haruskah seorang yang cantik bertakdir dengan seorang yang tampan? Pintar dengan yang pintar? Kaya dengan yang kaya?
Tidak. Baju bermotif bunga tidak akan terlihat bagus dengan jilbab polkadot. Terkadang, kita perlu mengambil jilbab yang polos agar baju dengan jilbabnya serasi dan enak dipandang. Memang, baju bermotif dan jilbab bermotif terlihat lebih lucu, harganya pun lebih mahal daripada baju dan jilbab polos, tetapi memakai baju bermotif dengan jilbab bermotif secara bersamaan tidak akan terlihat lebih baik daripada memasangkan jilbab motif dengan baju polos, dan jilbab polos dengan baju bermotif. Karena dua hal yang indah belum tentu menghasilkan sesuatu yang indah jika disandingkan, sesuatu yang agak kontras dan sedikit berbeda mungkin akan terlihat lebih cocok dan menyenangkan.

Selamat malam, hati-hati memilih jilbab :)